‘Apalagi staminanya. Wah, JOSS!’

Aruna segera melempar ponsel dari genggamannya ke atas kasur. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu menelungkup, membenamkan wajah yang masih tertutup itu ke kasur, seolah ingin mengubur diri. Sebuah pekikan lolos darinya, teredam di balik telapak tangannya. Wajah Omega itu merah padam sampai telinga.

Hardy menatap heran tingkah Omega itu. Ia sudah selesai mengenakan pakaiannya kembali. Hanya tinggal memakai dasi yang masih tersampir asal di pundaknya.

Sambil menghela napas pelan, Hardy duduk di kasur, tepat di samping Aruna. Kasur yang hanya beralaskan palet itu hampir membuat Hardy kesusahan untuk duduk dengan normal, jadi Alpha itu memilih untuk duduk bersila.

“Bangun sebentar,” perintah Hardy.

Telapak tangannya dengan ringan memukul dan meremas pelan salah satu pantat Aruna.

“Pakaikan dasiku. Kamu bisa kan memakaikan dasi?” tanyanya dengan suara lembut.

“Kamu tidak bisa pakai dasi sendiri?”

“Aku ingin tahu simpul dasi buatanmu.”

Aruna mendengus. “Ciri khas simpul dasi anak korporat sepertiku mungkin tidak akan sesuai dengan simpul dasi seorang atasan seperti kamu,” katanya setengah mengejek.

Jangan lupakan suara anak itu yang masih teredam di antara telapak tangannya.

“Selalu punya alasan.” Hardy menggelitik pinggang Omega itu hingga tubuh Aruna menegang seperti tersengat listrik.

“Ah—jangan lakukan itu!” desah Aruna setengah menahan tawa.

Ia akhirnya bangun dari posisi anehnya.

Namun ketika Aruna sadar bahwa ia baru saja kembali mengeluarkan desahan, ia langsung melotot dan kembali menutup bibirnya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa kok.” Aruna menggeleng cepat.

Aruna segera bangkit. Wajahnya masih merah padam, namun lebih baik dari sebelumnya. Omega itu menatap Hardy sebentar, baru satu detik kemudian beringsut mendekat. Aruna duduk di tengah; diantara kedua kaki Alpha itu. Ia duduk bersimpuh, wajahnya sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Hardy.

Mereka amat dekat, hanya dipisahkan sedikit jarak.

Tiba-tiba pesan yang baru saja dibacanya; pesan yang dikirimkan oleh salah satu tetangganya yang kemarin sore memberinya apel, masuk ke pikirannya, dan tanpa sadar membuat wajah Aruna kembali berubah merah padam. Beta itu pasti sudah gila. Mengirimkan pesan jorok seperti itu padanya. Tetapi di sisi lain, Aruna juga merasa malu karena sudah ketahuan melakukan hal jorok dengan seseorang di kamarnya yang biasanya sunyi.